Aplikasi Telegram Resmi Diblokir di Indonesia

1
70

Aplikasi Telegram Diblokir oleh Kementerian Komunikasi Dan Informatika dengan memberitahu provider internet untuk memblokir akses ke Sosial Media Telegram. Upaya Kemkominfo untuk menutup aplikasi buatan kakak beradik ini dinilai dapat menurunkan transaksi atau informasi ilegal yang terjadi di Indonesia melalui Telegram.

“Ada banyak saluran dalam layanan mereka yang mengandung kebencian, provokasi, terorisme, dan berbagai hal lainnya yang sangat bertentangan dengan hukum di Negara Indonesia,” kata Kemkominfo dalam pernyataannya pada Jumat, 14 Juli 2017.

Kementerian Komunikasi dan Informatika telah mengisyaratakan Internet Service Providers (ISP) yang banyak digunakan di Indonesia untuk memblokir akses ke Telegram, ISP yang sudah menyetujui isyarat Kemkominfo, antara lain Telkomsel, Three, Indosat, dan beberapa provider lainnya.

Dengan delapan provider Indonesia yang “akan” memblokir aplikasi Telegram, hal ini akan berpengaruh pada service Telegram pada Desktop komputer mereka. Kemkominfo mengatakan, diblokirnya Telegram dikarenakan aplikasi tersebut tidak memenuhi Standar Operasional Prosedur (SOP) yang berlaku dengan peraturan aplikasi.

Dari delapan ISP di Indonesia, hanya pihak XL Asiata, Telkomsel, dan Three yang mengatakan akan mematuhi langkah pemblokiran tersebut, jika web chat dibuka maka akan muncul keterangan pemblokiran. Sisanya belum memberikan tanggapan terkait.

Telegram merupakan salah satu Sosial Media yang dibuat agar tidak dapat terjadi penyadapan atau peretasan, jadi tidak heran jika sosial media ini yang paling sering digunakan oleh kelompok teroris, lebih dari 100 juta orang di seluruh Dunia menggunakan aplikasi Telegram, dan terdapat 15 juta pesan/obrolan setiap harinya.

Aplikasi Telegram diluncurkan pada tahun 2013, dibuat oleh Pavel Durov dan Nikolai Durov, pada bulan Juni 2017, pusat dari perusahaan aplikasi ini adalah Berlin, Jerman. Sosial media ini juga diisyaratkan akan diblokir di Rusia oleh Roscomnadzor (Rusia federal informasi teknologi & media massa), rencana pemblokiran ini dikarenakan rata-rata yang menggunakan aplikasi ini adalah kelompok Teroris.

Ada sebuah pernyataan unik yang disampaikan oleh CEO dari Telegram, ketika itu ia ditanya oleh pers: Bukankah dengan membuat Telegram dilengkapi berbagai enkripsi rahasia akan memudahkan teroris berinteraksi dan tidak terlacak?, Pavel Durov (Salah satu CEO Telegram), menjawab: Korban dari serangan Teroris tidaklah lebih banyak dari kecelakaan mobil.

Sosial Media yang dibuat oleh kakak beradik ini merupakan salah satu yang terpopuler, bagaimana tidak, aplikasi ini digunakan lebih dari seratus ribu user aktif per harinya.

Pada Oktober 2013 100.000 User Aktif Harian
Februari 2014 50 Juta User Aktif dan 20 Juta User Aktif Harian
September 2015 60 Juta User Aktif dan 12 Juta Pesan Harian
Februari 2016 100 Juta User Aktif, 30 juta pesan harian, dan 350.000 user yang mendaftar setiap harinya.

Bukti penggunaan layanan chat Telegram sudah didapatkan ketika ketua kelompok Mujahid Indonesia Timur (MIT) yang berafiliasi dengan ISIS berkomunikasi dengan anak buahnya menggunakan aplikasi telegram.

Di Indonesia sendiri, Kemkominfo sudah mengumumkan akan memblokir Telegram pada awal tahun 2017, setelah berbagai pertimbangan, akhirnya pada bulan Juli 2017 rencana Kemkominfo untuk memblokir Telegram sudah terwujud.